| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Nov | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||
Terinspirasi dari seorang teman…
(selembar catatan yang dibuat dini hari, saat inspirasi mengerjakan tugas sudah buntu!) hahaha…
tadi pagi, saat saya menanyakan pada seorang teman: kenapa kamu senang? ia berkata: “ya, senang aja”
saya bertanya, “knapa? kata kamu, segala sesuatu harus ada alasannya..” (sebelumnya, ia menanyakan pada saya hal yang sama) lalu ia mengatakan kalimat ini: biarlah segala sesuatunya berasal dari dalam diri kamu (…) coba sesekali kamu duduk di dekat jendela bus dan lihat semuanya berjalan…kita tak ada pun, semua tetap berjalan seperti biasa. kita begitu kecil dibandingkan seluruh dunia ini.
Apa hubungannya dengan perasaan yang timbul dari dalam diri?
Anggap saja…kamu sebagai penonton, jawab teman itu. Kamu tidak perlu terpengaruh.Memang, teman saya sudah membuktikannya. Saat ayahnya meninggal, ia tidak menangis sama sekali…Ia menyadari dari dalam hatinya, memang sudah saatnya terjadi.
Jadi, katanya..saat kamu senang, saat kamu sedih, itu terjadi dalam dirimu sendiri dan bukan karena pengaruh dari luar.
hmmm…saya mempraktekkan itu. saya penasaran dengan kata-katanya. Saya sengaja memilih tempat di dekat jendela. Menjadi penonton…Oh, ini toh yang dimaksudnya…
Memang, mudah sekali merespon secara reaktif. Begitu mudah dikendalikan oleh hal-hal dari luar diri. Seakan-akan, kita tidak memiliki kendali atau kontrol apapun atas diri kita. Ini terjadi juga saat kita melakukan kesalahan. “Ini karena dia”, “Dia sih, bikin saya kesal!”, “Sori, terlambat. Macet…”
Itupun sering saya alami. Saat saya merasa emosi, kesal, marah, sedih, kecewa, ataupun sebaliknya: gembira, senang… Seringkali dikaitkan dengan faktor luar diri.
Akibatnya, dunia dan hidup saya begitu mudah berubah. Negatifnya lagi, begitu mudah pula saya “menunjuk” hal lain di luar diri saya menjadi tersangka utama atas apa yang terjadi dalam hidup saya. Seakan-akan, merekalah yang bertanggung jawab atas apa yang saya alami.
Padahal, manusia dianugerahi kehendak bebas dan akal budi. Akan tetapi, semua itu seakan terpendam begitu saja. Jadi, siapa yang harus berjuang untuk hidup saya? Siapa yang bertanggung jawab?
Pertama-tama, tentu diri saya sendiri. Peran orang lain tentu dan pastinya ada. Akan tetapi, seberapa besar pengaruh mereka dalam kehidupan pribadi kita, kontrolnya berada di tangan kita sendiri. Hal inilah yang kurang disadari, termasuk oleh saya sendiri.
Hmm…hari sudah semakin larut. Trims ya, teman, untuk inspirasinya! Sebuah awal kesadaran menuju kedewasaan diri…. GBU.
LOVE
Cinta itu aneh, ya…
Saat tak terduga ia datang…
Menghampiri dan mengubah dunia kita
Rasanya indah
Akan tetapi, ketika kita mulai tenggelam di dalamnya
dan mulai egois
tak mau melepaskan
saat itu ia perlahan tapi pasti
terbang perlahan meninggalkan….
Mungkin jejak indah, mungkin pula luka
…..
Namun, saat aku tersadar
Aku pun dapat tersenyum kembali
menyapanya walau mungkin dia bukan untukku
bersahabat dengannya walau hatinya untuk yang lain
Tetapi aku tetap bahagia
dan damai
Ternyata, mencintai itu indah
Tak peduli apa balasannya
Ini benar
Mungkin awalnya sakit
Tetapi pada akhirnya
Ketika engkau mencintai dengan bebas lepas
Yang ada kedamaian hati
…..
Mungkin selama ini aku hanya menjadi kolam
bukan sungai yang mengalir
….
Ketika kita sadar bahwa
ketika kita melepaskan
dengan rela
Dengan tetap menganggapnya sahabat
walau apapun tanggapannya tentang diri kita
Saat itulah, kita dapat melihat dengan benar
Bahwa ada begitu banyak pilihan yang diberikan
Ada begitu banyak cinta di sekeliling kita
Yang tidak kita sadari sebelumnya
Karena kita terlalu egois
Mengejar impian kita sendiri
…..
THANKS GOD, THANKS MOTHER MARY, THANKS TO EVERYONE IN MY LIFE
for everything You do in my life, for every moment….
LOVE YOU ALL
THIS IS FOR YOU…
Hidup adalah suatu perziarahan…
Berkelana dari satu tempat ke tempat lain
Perjumpaan dan perpisahan menjadi bumbu dalam perjalanan
Ada satu waktu
Rasanya enggan untuk beranjak
Sulit mengucapkan sampai jumpa
Dengan begitu banyak kenangan
Memori meninggalkan jejak dalam
di hati
Ya…itulah hidup
Tak ada yang abadi
Pelangi hanya menjadi bias air hujan
Sumber cahaya ada dalam Sang Matahari
Saat ini…
Mungkin sulit untuk mengatakan
Selamat tinggal Romo
Begitu banyak jejak kenangan yang terlukis
Masih teringat canda tawa
Juga marah dan tangis
Rasanya begitu cepat waktu bergulir
Namun, pelayanan berakar pada sebuah ketaatan
Kesetiaan dan pengorbanan
Aku ini hamba Tuhan, jadilah kehendak-Mu
Ini aku, milik-Mu
Sebuah tugas dijalani
dengan seulas senyum ikhlas
Hari ini…
Menjadi hari yang terukir penuh makna
Perpisahan bukanlah akhir
Melainkan suatu awal
Untuk berjumpa kembali
Lembaran harus tetap dibuka
Menyambut keluarga baru
dengan penuh sukacita
Perpisahan membawa perkenalan yang lain
Perkenalan semoga membawa kedekatan
Kesatuan sebagai satu keluarga
Berangkulan erat menghadapi tantangan
Maju menggapai impian harapan
Terima kasih Romo Danto
Untuk jerih payah, kesetiaan, dan pengorbananmu
Sepanjang tujuh tahun yang penuh batu kerikil dan badai
Tetapi juga angin sejuk dan sinar mentari pagi
Doa kami selalu menyertai hidup dan pelayanan Romo
Selamat datang, Romo Adi!
Tangan terbuka dan senyum persahabatan menyambutmu
Bersama dalam satu keluarga
Terus mengobarkan api cinta kasih
Menjadi sahabat dan pembimbing kami selalu
Semoga tangan Tuhan selalu membimbing langkah setiap pelayan-Nya
Memberkati setiap pikiran, kata, dan perbuatan
Hingga akhirnya hanya terang-Mu yang bercahaya
Melalui diri kami semua untuk sesama. AMIN.
PUISI KEMERDEKAAN
MERDEKA!
MERDEKA… Kata yang sangat nyaring didengungkan
Apalagi
di tengah hari-hari kemerdekaan bangsa Indonesia
Namun…
BENARKAH KITA TELAH MERDEKA??
Benarkah semangat merah putih masih berkibar di hati kita?
Benarkah Pancasila masih bermakna dalam nurani kita?
Benarkah kita sungguh-sungguh bangsa Indonesia?
Masih sejuta tanda tanya
Mengenai apa?
Satu kata…
Yang juga selalu didengungkan oleh iman kita,
yaitu….
CINTA KASIH
Cinta yang memerdekakan
Kasih yang menyatukan dan berperikemanusiaan
Cinta kasih yang mengisi hidup dengan suci
Cinta kasih yang berani memperjuangkan keadilan
dan
Cinta kasih yang berani bertindak
Benarkah kita sebagai manusia Katolik dan juga manusia Indonesia
telah mewujudkannya??
Karena…
Seperti tindakan tanpa kasih adalah sia-sia
Demikian pula kasih tanpa tindakan juga tak ada artinya
Maka, marilah saudara-saudari, teman-teman sekalian
Mari kita bersama-sama berjuang
demi kemerdekaan dan kasih sejati
dalam diri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat kita
agar pada akhirnya
kita berani berseru,
Merdeka! Merdeka! dan
MERDEKA! Amin.
Hari ini hari kedua UTS. Wah, harus semangat nih! Sebenernya belajar itu asik juga ya, asal dilakuin dengan senang hati..Walaupun emang ada bosen2nya juga..
Yang penting gw udah mengusahakan yang terbaik yang bisa gw lakuin, hasilnya gimana, disyukurin aja. Hehehe…GBU
Bunda Maria doain aku, ya…dan Tuhan tolong berkatin juga
Teman-teman juga…semuanya semangat ya, belajarnya atau ngerjain tugasnya! God bless u all. Muaah!
Harta yang paling berharga adalah keluarga..
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Puisi yang paling berharga adalah keluarga
Tadi gw kesel banget. Tapi ya udalah, toh gw kesel2 sebenernya sayang juga…sama keluarga gw. Makasih ya, TUhan untuk kehadiran mereka. Makasih, ma pa yang selalu perhatiin aku dan ada untuk aku. BUat Nico juga, biar gw sering kesel banget gara-gara tingkah kamu…Tanpa kamu juga pasti ada yang kurang dalam hidup aku. Walau sering ngajak ribut, i know you love me n always care about me…
Yah, begitulah. Walau gw sering kesel dan BT, marah gara2 kata2 sikap n tindakan keluarga gw, tapi satu yang pasti: GW SAYANG BANGET SAMA MEREKA! MAAF YA, KALO GW JUGA SERING BIKIN KESEL N SAKIT HATI…
MIA..wahhh selesai juga kepanitiaan terakhir gw. hahaha..thanks God!
Gile! Temen2 panitia, gw salut sama kalian semua! PROFICIAT n thanks a lot, ya! Semua pengorbanan dan kerja keras temen2 luar biasa banget…Gw acungin jempol buat semuanya. Mulai dari jualan ampe utang banyakkk banget, ngamen, garage sale, jaga regis, urusin akomodasi undangan konsumsi pas hari H, survei bareng, nunggu buka puasa bareng pas survei, rapat, ga makan, kejar time table, urusin undangan, nyiapin perlengkapan yang banyak banget…wahhh, hebat temen2 panitia! Semua penuh kenangan…
Gw nemuin pengalaman berharga di sini, keluarga, sahabat2…hix..hix…gw sayang sama semuanya! Keep contact ya…
Maafin juga kalo gw ada salah. Mungkin emosi, suka maksa juga (hahaha) atau menuntut macem2…hehehe. Maap ya…teman2kuw tersayang!
Buat corry juga..hehehe…kepanitiaan paling berkesan bareng lo. hahaha…mungkin kepribadian kita emang beda, dan kita sering beda pendapat juga…tapi ga masalah. gw seneng kita dikasih kesempatan untuk kerja bareng. Gw belajar banyak hal dan salut juga buat semua yang dah lo lakuin…muaah. Termasuk ciuman di hari terakhir MIA…berkesan banget tuh! hehehe…Maaf2 kalo gw ada salah ya, say…
Buat Tina…gw yakin lu bisa jadi seorang leader yang baik! Tetep smangat dan terus belajar…Makasih banget lu dah mau menyediakan diri dan berkorban untuk panitia yg makan banyak biaya, waktu, tenaga, perasaan, dan lain-lain. hehehehe…
Buat Monik..kapan kita pulang bareng lagi naik 213? seneng loh ada temen ngobrol di jalan. gimana “eye shadow” sebelahnya? dah hilang belom? maap2..becanda. hehehe…cepet sembuh, ya! dan buat DIlo, semangatmu, nak (hehehe..sok tua, gw) buset dah! jangan ampe sakit lagi ya.jangan keterusan “diet” makan pop mie… n cepet sembuh…
Buat Yo2, Nira, Agnes, Adit…tim dana MIA…ckkk ckk ckk…perjuangan temen2…salut! Rajin banget..Yo, untung lu ga jadi resign..kalo ga, pasti kita bakal sedih banget…moga2 lu ga nyesel tetep bertahan sampai akhir..dan gw percaya sgala yang temen2 lakuin ga sia2!
Buat regis: arum, dita, chika…gokil banget, dah! Mantap! Kompak dan regis buka terusss…padahal, susah loh biasanya tetep bikin regis stay terus..wah, hebat2…terorganisir dengan rapi dan jualan abis teruss…Salut2..
Buat acara: tekla, nona, andre, ariani, lele, rian, david. Wah, gw ampe ga bisa comment, nih. Oke n top banget! Baterenya apa sihh?? ga da matinya! Temen2 bisa dengan cepat dan sigap ngatasin masalah2 di lapangan dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat rapi. Walaupun awal2 gw sempet khawatir sama ni seksi, tapi ternyata hasilnya…TOP deh! buku acara PAJ terkeren yang pernah gw temuin, n bisa bikin hidup acara untuk 100 orang! keren..tetep kompak, ya!
Buat transakom: obet, marli, satriadi. Wah, ni seksi juga…mandiri banget n profesional! Dengan keterbatasan dana dan kendala di lapangan yang dateng bertubi2…kalian tetep tough dan bisa kasih yang terbaik. Gw suka sama cara kerja sie transakom yang menurut gw sip banget. Jadi inget Satriadi ngabuburit pake hiking..tapi hebat, lo! ga bolong puasanya..hahaha. Apapun kata orang, menurut gw, u’r still the best! Walau berbeda, ga masalah dan tetap satu!
Selanjutnya, seksi pubdok: jojong, yohansen, vincent. Desainnya oke banget, cuy! sapa yang bikin tuh? hahhaa…ni seksi selain selalu beres kerjaannya dalam waktu cepet, juga punya satu lagi keahlian: jualan! dikasih berapapun laku aja. hahaha…malak, bang? n selalu ceria! tetap smangat, ya! n jangan lupa DVD nya…
Seksi medis: sendy dan anton (gantiin cule) dari FK! wah, sigap banget nih calon2 dokter kita…mulai dari mata monik, peserta yang flu berat, kaki keseleo, migren, meriang, ampe sakit jantung! hahaha…semua ditanganin dengan baik. Biar kita baru ketemu pas hari H, tapi langsung bisa kompak! hebat..hebat…main2 ke semanggi ya kalo sempet.
Terakhir, tapi yang ter-oke juga: seksi perlengkapan keamanan! kiki, okky, dkk. Wah, walaupun jarang keliatan di PAJ (hehehe) tapi kerja temen2 oke banget! semua tersedia dengan rapi dan lengkap…walaupun suka pada mepet kasih list-nya…dan kompak! sie perlengkapan kita juga sabar banget dan ga ngeluh walaupun perlengkapan yang dibutuhin seabrek-abrek! Pas menjaga keamanan pun tegas dan asertif. Good work!
Wahhh…apa lagi yang belom? Romo, Mas Bowo, Frater, perwakilan karyawan, undangan, peserta…
THANK YOU BANGETTT….Romo dan perwakilan karyawan yang udah bela-belain cape2 bolak balik demi MIA, Pak Lukas dan Mas BOwo yang udah ngorbanin waktu liburnya bareng keluarga, Frater yang dampingin kita, undangan yang juga udah ngorbanin waktu, tenaga, biaya untuk ngisi acara dan gw yakin udah berusaha ngasih yang terbaik dalam acara ini, untuk peserta yang kalo ga ada temen2 semua, ga ada artinya semua yang kita lakuin…wuahh! gw kehabisan kata2 nih, pokoknya…gw ngerasa terharu buat apa yang udah semuanya berikan untuk acara ini dan untuk PAJ.
Mungkin ada kesalahan dan kekecewaan yang dialami, we’re sorry about it. tapi, gw berharap kalo motto kita sebagai “one big family” ga akan pernah pudar dalam realita.
Finally, semoga acara ini bener2 bisa membawa “A New Life” di PAJ sebagai one big family. Let’s start a new life as one big family! Muaaah
MA, AKU SUDAH SIAP….
“Ma, aku sudah siap…,” kata-kata itu meluncur dengan mantap dari seorang teman seusia kita, mahasiswa angkatan 2006 dari kampus lain, dalam sebuah peristiwa….
Siap. Kata ini mungkin biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, menjelang ujian, kita ditanya apakah kamu sudah siap? Jawabannya bermacam-macam. Ada yang sudah siap karena memang sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Ada juga yang menjawab belum siap karena memang baru sedikit ataupun belum sama sekali menyiapkan. Tidak sedikit pula yang memang sudah melakukan persiapan tetapi masih belum siap secara mental.
Rasanya, sulit untuk dengan mantap mengatakan bahwa kita memang benar-benar sudah siap. Apalagi jika itu menyangkut hal yang sulit menurut kita. Ini menurut pendapat saya. Mungkin benar, mungkin juga tidak.
Akan tetapi….ketika kata-kata “siap” itu meluncur dari mulut seseorang
yang berada di ambang ajal….
pada usianya yang masih muda
dengan berbagai impian, cita-cita, dan harapan
yang masih ingin diraihnya….
Ia mengatakan itu…Ma, aku SIAP.
dengan penuh keyakinan, dengan senyuman yang mantap….
Rasanya, hal itu menjadi sesuatu yang istimewa. Sungguh, bagi saya pribadi, kata-kata yang dilontarkan oleh almarhum mahasiswa itu menyentuh. Iman yang nyata. Tersirat keyakinan penuh akan kasih Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkannya dan penyerahan diri yang total.
Padahal, momen kematian biasanya merupakan momen yang ditakuti oleh banyak orang. Termasuk saya sendiri. Mengapa? Karena belum siap. Masih begitu banyak hal mengganjal di hati. Keinginan yang belum terpenuhi…. Kurang berserah dan kurang percaya… Iman yang masih setengah-setengah. Akan tetapi, almarhum menghadapinya dengan siap. Mengapa?
Ma, aku melihat Tuhan Yesus di sana…..
Lalu ia tersenyum dua kali dan…
menghembuskan nafas terakhirnya
dalam kedamaian
Saya menemukan jawabannya dalam dua kata dari rangkaian kalimat yang diucapkan almarhum. Tuhan dan Kedamaian. Seseorang yang berada dalam keadaan siap, pasti merasakan kedamaian. Tidak ada kecemasan, tidak ada kekhawatiran, tidak ada ketakutan. Ketika kita siap menghadapi ujian, kita tidak merasa cemas, kita tidak khawatir apapun soal yang diberikan, dan kita tidak merasa takut. Demikian pula dengan ujian dalam hidup. Lalu, bagaimana kita dapat merasakan kedamaian itu?
Masih terinspirasi dari kata-kata almarhum, kedamaian sejati hanya didapat dari Tuhan sendiri. Almarhum merasakan kehadiran Tuhan menjelang kematiannya. Tuhan mengunjunginya, menemaninya. Kehadiran Tuhan menguatkan, memberikan damai sejati. Kedamaian di tengah penderitaan sakitnya, kesiapan di tengah situasi yang sebenarnya menakutkan bagi sebagian besar orang. Penderitaan tetap ada tetapi kekuatan yang diberikan Tuhan membuat penderitaan itu menjadi suatu persembahan diri. Tidak hanya itu, kekuatan itu ternyata “menular” kepada orang lain….
Ibu itu…orang tua dari almarhum…
yang mendengar sendiri kata-kata anaknya
di tengah kehilangannya
Masih dapat menghibur dan menguatkan
teman-teman almarhum yang bersedih
Melihat ibu almarhum tersenyum, bahkan menguatkan teman-teman anaknya yang masih menangis, sungguh membuat saya berefleksi. Sementara banyak orang histeris dan pingsan mendengar kematian orang yang dikasihinya, sebaliknya di tengah kesedihannya, ibu itu masih sempat menghibur.
Saya teringat doa seorang santo terkenal, “Semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, mencintai daripada dicintai…Memberi daripada menerima….” Darimana semua kekuatan itu? Dari Tuhan…melalui pesan tersirat yang ditinggalkan oleh almarhum anaknya. Mencoba berefleksi, seringkali saya juga mengeluh dan memikirkan diri sendiri saat mengalami kesulitan. Akan tetapi, sungguh saya melihat suatu teladan nyata dalam peristiwa ini.
Akhirnya….
Diingatkan bahwa hidup ini tak terduga dan begitu singkat….saya bertanya pada diri sendiri:
siapkah saya ketika tiba-tiba dihadapkan dengan Dia?
siapkah saya kapan saja mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan selama ini?
atau
saya masih menyimpan dendam, penyesalan, dan keegoisan pribadi
sehingga akhirnya tidak siap?
SEMOGA….sekecil apapun kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk berbuat baik, menolong sesama, walaupun kadang itu butuh pengorbanan, tidak kita lewatkan.
Bukan supaya Tuhan baik pada kita atau supaya kita dipandang baik oleh orang lain tetapi justru karena Ia terlalu baik maka kita tersentuh untuk memberikan yang terbaik dari diri kita untuk-Nya.
SEMOGA….sekecil apapun kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk mengampuni dan mengekspresikan kasih yang agape (kasih tak bersyarat), walaupun itu sulit, tidak kita biarkan begitu saja kesempatan itu berlalu.
Mari kita saling mendoakan dan menguatkan untuk dapat memberikan yang terbaik dalam hidup kita melalui sesama untuk Dia karena kita tidak mungkin berjalan sendirian….
Sehingga akhirnya, seperti almarhum mahasiswa itu, kita pun juga bisa mengatakan “Saya SIAP” saat dihadapkan dengan Dia…karena hidup itu tak terduga dan begitu singkat.
God bless you. Ave Maria.
Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun apa yang terjadi bila ia dimasukkan ke dalam sebuah kotak Korek Api kosong lalu dibiarkan di sana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.
Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri. Ia mulai berpikir, “Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini.”
Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. Dia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, “Nah, benar kan? Kemampuan saya memang Cuma segini. Inilah saya!”
Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak. Kehidupan telah dibatasi oleh lingkungannya.
Sesungguhnya, di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya ketika kita memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga ia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika kita mencoba melompat tinggi, ia tidak pernah memuju, bahkan justru tersinggung. Ia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengerdilkan kita.
Teman kerja juga bisa menjadi kotak korek api. Coba ingat ketika ia berbicara begini, “Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan kok.”
Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri kita. Kotak korek api juga dapat berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang kurang, kemiskinan, usia, dan lain sebagainya.
Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan kita yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari. Bila potensi kita yang sesungguhnya ingin muncul, kita harus take action untuk menembus kotak korek api itu.
Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi yang di bawah rata-rata ia mampu menjadi presenter di televisi. Kita pun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buat, tuli dan “gagu” dia mampu lulus dari Harvard University.
Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi “raja” komputer. Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lest 65 tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fas food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun.
Nah, bila kita masih terkungkung dengan kotak korek api, pada hakekatnya kita masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates, dan Nelson Mandela adalah orang yang amampu menembus kungkungan kotak korek api. Bagaimana dengan kita??
(diambil dari buku PERCIKAN HATI, renungan harian dan pendalaman iman, Februari 2008)
LETAK KEKUATAN
Ada kekuatan di dalam cinta, dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat, karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri.
Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, dan orang yang tertawa gembira adalah orang yang kuat karena ia tidak terlarut dengan tantangan dan cobaan.
Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, dan orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat, karena ia tidak tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.
Ada kekuatan di dalam kesabaran, dan orang yang sabar adalah orang yang kuat karena ia sanggup menanggung segala sesuatu dan ia tidak merasa disakiti.
Ada kekuatan di dalam kemurahan, dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat, karena ia tidak menahan mulut dan tangannya untuk melakukan kebaikan bagi sesama.
Ada kekuatan di dalam kebaikan, dan orang yang baik adalah orang yang kuat, karena ia mampu melakukan yang baik bagi semua orang.
Ada kekuatan di dalam kesetiaan, dan orang yang setia adalah orang yang kuat karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi dengan kesetiannya kepada Tuhan dan sesama.
Ada kekuatan di dalam kelemah-lembutan, dan orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat, karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.
Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, dan orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat, karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.
Di situlah semua letak-letak di mana Kekuatan Sejati berada…
Dan sadarlah bahwa kita juga memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi segala masalah kita…di mana pun juga, seberat dan serumit apapun juga.
(sumber: Renungan Harian dan Pendalaman Iman PERCIKAN HATI edisi September 08)