You are reading Refleksi dari Peristiwa yang dialami Seorang Teman. You can leave a comment on or trackback to this post
Newer »« Older| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Sep | Nov » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||
MA, AKU SUDAH SIAP….
“Ma, aku sudah siap…,” kata-kata itu meluncur dengan mantap dari seorang teman seusia kita, mahasiswa angkatan 2006 dari kampus lain, dalam sebuah peristiwa….
Siap. Kata ini mungkin biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, menjelang ujian, kita ditanya apakah kamu sudah siap? Jawabannya bermacam-macam. Ada yang sudah siap karena memang sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Ada juga yang menjawab belum siap karena memang baru sedikit ataupun belum sama sekali menyiapkan. Tidak sedikit pula yang memang sudah melakukan persiapan tetapi masih belum siap secara mental.
Rasanya, sulit untuk dengan mantap mengatakan bahwa kita memang benar-benar sudah siap. Apalagi jika itu menyangkut hal yang sulit menurut kita. Ini menurut pendapat saya. Mungkin benar, mungkin juga tidak.
Akan tetapi….ketika kata-kata “siap” itu meluncur dari mulut seseorang
yang berada di ambang ajal….
pada usianya yang masih muda
dengan berbagai impian, cita-cita, dan harapan
yang masih ingin diraihnya….
Ia mengatakan itu…Ma, aku SIAP.
dengan penuh keyakinan, dengan senyuman yang mantap….
Rasanya, hal itu menjadi sesuatu yang istimewa. Sungguh, bagi saya pribadi, kata-kata yang dilontarkan oleh almarhum mahasiswa itu menyentuh. Iman yang nyata. Tersirat keyakinan penuh akan kasih Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkannya dan penyerahan diri yang total.
Padahal, momen kematian biasanya merupakan momen yang ditakuti oleh banyak orang. Termasuk saya sendiri. Mengapa? Karena belum siap. Masih begitu banyak hal mengganjal di hati. Keinginan yang belum terpenuhi…. Kurang berserah dan kurang percaya… Iman yang masih setengah-setengah. Akan tetapi, almarhum menghadapinya dengan siap. Mengapa?
Ma, aku melihat Tuhan Yesus di sana…..
Lalu ia tersenyum dua kali dan…
menghembuskan nafas terakhirnya
dalam kedamaian
Saya menemukan jawabannya dalam dua kata dari rangkaian kalimat yang diucapkan almarhum. Tuhan dan Kedamaian. Seseorang yang berada dalam keadaan siap, pasti merasakan kedamaian. Tidak ada kecemasan, tidak ada kekhawatiran, tidak ada ketakutan. Ketika kita siap menghadapi ujian, kita tidak merasa cemas, kita tidak khawatir apapun soal yang diberikan, dan kita tidak merasa takut. Demikian pula dengan ujian dalam hidup. Lalu, bagaimana kita dapat merasakan kedamaian itu?
Masih terinspirasi dari kata-kata almarhum, kedamaian sejati hanya didapat dari Tuhan sendiri. Almarhum merasakan kehadiran Tuhan menjelang kematiannya. Tuhan mengunjunginya, menemaninya. Kehadiran Tuhan menguatkan, memberikan damai sejati. Kedamaian di tengah penderitaan sakitnya, kesiapan di tengah situasi yang sebenarnya menakutkan bagi sebagian besar orang. Penderitaan tetap ada tetapi kekuatan yang diberikan Tuhan membuat penderitaan itu menjadi suatu persembahan diri. Tidak hanya itu, kekuatan itu ternyata “menular” kepada orang lain….
Ibu itu…orang tua dari almarhum…
yang mendengar sendiri kata-kata anaknya
di tengah kehilangannya
Masih dapat menghibur dan menguatkan
teman-teman almarhum yang bersedih
Melihat ibu almarhum tersenyum, bahkan menguatkan teman-teman anaknya yang masih menangis, sungguh membuat saya berefleksi. Sementara banyak orang histeris dan pingsan mendengar kematian orang yang dikasihinya, sebaliknya di tengah kesedihannya, ibu itu masih sempat menghibur.
Saya teringat doa seorang santo terkenal, “Semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, mencintai daripada dicintai…Memberi daripada menerima….” Darimana semua kekuatan itu? Dari Tuhan…melalui pesan tersirat yang ditinggalkan oleh almarhum anaknya. Mencoba berefleksi, seringkali saya juga mengeluh dan memikirkan diri sendiri saat mengalami kesulitan. Akan tetapi, sungguh saya melihat suatu teladan nyata dalam peristiwa ini.
Akhirnya….
Diingatkan bahwa hidup ini tak terduga dan begitu singkat….saya bertanya pada diri sendiri:
siapkah saya ketika tiba-tiba dihadapkan dengan Dia?
siapkah saya kapan saja mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan selama ini?
atau
saya masih menyimpan dendam, penyesalan, dan keegoisan pribadi
sehingga akhirnya tidak siap?
SEMOGA….sekecil apapun kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk berbuat baik, menolong sesama, walaupun kadang itu butuh pengorbanan, tidak kita lewatkan.
Bukan supaya Tuhan baik pada kita atau supaya kita dipandang baik oleh orang lain tetapi justru karena Ia terlalu baik maka kita tersentuh untuk memberikan yang terbaik dari diri kita untuk-Nya.
SEMOGA….sekecil apapun kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk mengampuni dan mengekspresikan kasih yang agape (kasih tak bersyarat), walaupun itu sulit, tidak kita biarkan begitu saja kesempatan itu berlalu.
Mari kita saling mendoakan dan menguatkan untuk dapat memberikan yang terbaik dalam hidup kita melalui sesama untuk Dia karena kita tidak mungkin berjalan sendirian….
Sehingga akhirnya, seperti almarhum mahasiswa itu, kita pun juga bisa mengatakan “Saya SIAP” saat dihadapkan dengan Dia…karena hidup itu tak terduga dan begitu singkat.
God bless you. Ave Maria.
no comments yet.
Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.
Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>